1.
IMAN IBARAT BENIH (Mat.17:20)
Yesus
mengibaratkan iman sebagai benih biji sesawi, yang meskipun sangat kecil tapi
bisa memampukan Anda untuk memindahkan gunung. Dari pengibaratan ini, kita
dapat mengambil tiga pelajaran penting. Yang pertama adalah bahwa iman berasal
dari hal yang kecil dan sederhana, yakni mendengar firman Tuhan (Rm.10:17).
Kedua, layaknya biji, iman yang sehat adalah iman yang bertumbuh. Meski bijinya
kecil, pohon sesawi bisa mencapai tinggi sekitar 7 meter. Demikian juga, iman kita
pun seharusnya bertumbuh semakin tinggi meski dihempas angin kesulitan dan
pergumulan hidup. Dan ketiga, iman yang sehat adalah iman yang berbuah. Melalui
iman, hendaklah hidup kita menghasilkan buah, yakni buah pertobatan (Mat.3:8),
buah roh (Gal.5:22-23), buah pekerjaan baik (Kol.1:10), buah kebenaran (2
Kor.9:10), buah untuk hidup yang kekal (Yoh.4:36) dan buah ucapan bibir yang
memuliakan Tuhan (Ibr.13:15).
2.
IMAN IBARAT LUKISAN (1 Sam.17:46)
Alkitab
memang tidak mengatakan hal ini secara terang-terangan, namun dari kisah hidup
Daud dan Saul, khususnya ketika menghadapi Goliat, kita dapat menyimpulkan iman
ibarat sebuah lukisan yang sudah terlebih dahulu dibayangkan oleh sang pelukis.
Ia melihat sesuatu dengan jelas dalam pikirannya sekalipun ia belum melihatnya
secara kasat mata. Bandingkan respons Saul dan Daud ketika akan menghadapi
Goliat. Jika Saul melihat “lukisan kekalahan” karena besarnya tubuh Goliat,
yang Daud lihat justru adalah “lukisan kemenangan”. Bukanya focus pada besarnya
tubuh Goliat, Daud justru melihat besarnya kuasa Tuhan yang tak pernah
meninggalkannya. Jadi, lukisan seperti apakah yang Anda bayangkan saat ini?
Terjadilah sesuai iman Anda berarti terjadilah sesuai dengan lukisan yang Anda
bayangkan.
3.
IMAN IBARAT FONDASI (1 Taw. 16:12)
Ibarat
bangunan akan kokoh apabila fondasinya kuat, maka begitulah hidup Anda akan
senantiasa kuat apabila hidup Anda didasari iman percaya yang sangat kuat. Nah,
seperti apakah iman/fondasi yang kokoh ini? Setidaknya ada 2 ciri. Pertama,
iman yang koko adalah iman yang tidak moody, yang pada satu waktu terlihat
kuat, namun di waktu lain terlihat rapu. Iman yang naik turun seperti ini akan
membuat bangunan diatasnya mudah goyah dan bahkan runtuh. Begitu juga dengan
iman yang suam-suam kuku. Atau dengan kata lain sedang-sedang saja. Iman
seperti ini jelas bukan suatu tanda keadaan iman yang baik. Bukannya menguasai
keadaan, ia justru membiarkan masalah dan persoalan hidupnya menguasai hidupnya.
4.
IMAN IBARAT KWITANSI (Ibr.11:1)
Ketika
Anda membeli suatu barang dan sudah membayarnya, maka Anda akan mendapatkan
sebuah kwitansi. Meski barangnya belum sampai rumah sekalipun (belum diantar),
namun Anda sudah menjadi pemilik sahnya karena Anda sudah menerima kwitansinya.
Dari pengibaratan ini, kita bisa menyimpulkan dua hal, bahwa Anda perlu beriman
dulu bahwa sebelum melihat realita yang ada. Ya, iman memang mendahului
realita. Kita melihat segala sesuatunya dulu dalam iman, baru menunggu Tuhan
menjadikannya dalam realita. Kemudian yang kedua adalah Anda akan mendapatkan
sesuatu sesuai dengan besarnya iman yang Anda miliki, seperti halnya Anda akan
menerima barang sesuai dengan detail yang tercantum dalam kwitansinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar